Sebelum saya membahas apa dan bagaimana peran guru dalam pembelajaran mendalam (deep learning), saya terlebih dahulu ingin menyampaikan beberapa catatan. Pertama, murid tidak akan mau belajar dari guru yang tidak disukainya. Kedua, guru dalam mengajar murid harus berdasarkan nilai welas asih atau kasih sayang serta rasa cinta terhadap profesinya. Murid tidak akan mengingat seluruh materi yang diajarkan oleh guru, tetapi akan selalu terkenang terhadap perlakuan guru terhadap mereka. Ketiga, murid tidak peduli seberapa rinci atau tebal RPP atau modul ajar yang dibuat oleh guru, tetapi murid lebih peduli terhadap kehadiran dan cara guru mengajar di dalam kelas.
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi isu yang saat ini banyak didiskusikan di kalangan pengamat dan praktisi pendidikan. Pendekatan ini menekankan terhadap proses pembelajaran yang bukan hanya menjadikan murid hapal terhadap materi, tetapi juga mampu memahami, mengaplikasikan, memaknai, dan merefleksikannya. Dengan kata lain, deep learning mengarahkan murid untuk berpikir kritis, analitis, evaluatif, dan reflektif. Pembelajaran yang terjadi bukan hanya pada level berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS) yaitu mengetahui (C-1), memahami (C-2), dan mengaplikasikan (C-3), tetapi juga ke level berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) yaitu menganalisis (C-4), mengevalusi (C-5), dan mencipta (C-6).
Pada implementasi deep learning, pembelajaran diharapkan dapat berlangsung dengan berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (enjoyful). Mindful maksudnya adalah murid merasakan dirinya hadir di kelas baik secara fisik maupun mental serta siap mengikuti proses pembelajaran. Melalui apersepsi yang dilakukan oleh guru, murid tahu akan apa materi yang akan dipelajari, apa tujuan pembelajarannya, mengapa mereka harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, dan bagaimana cara mempelajarinya.
Meaningful maksudnya murid mampu memahami dan memaknai materi pelajaran yang dipelajarinya serta mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata melalui pengalaman belajar. Sedangkan enjoyful, murid merasakan suasana pembelajaran yang menyenangkan melalui beragam metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Perlu digarisbawahi bahwa maksud menyenangkan di sini bukan berarti guru harus banyak melakukan ice breaking, humor, atau permainan yang membuat murid terhibur, tetapi maksudnyas adalah murid dapat mengikuti pembelajaran secara aktif, antusias, fokus, dan bersungguh-sungguh dalam suasana yang nyaman dan gembira. Dengan kata lain, selama dan setelah mengikuti pembelajaran, bagi murid, materinya dapat, senangnya pun dapat.
Guru memegang peran penting dalam implementasi deep learning. Karena sebagus dan sehebat apapun sebuah teori atau sebuah konsep, eksekusinya sangat tergantung kepada guru. Mungkin saja ada guru yang secara substantif telah melaksanakan hal tersebut hanya tidak disebut sebagai deep learning. Hal tersebut dapat dilihat dan dirasakan selama proses pembelajaran dan prestasi belajar murid-muridnya.
Walau demikian, mungkin saja masih banyak guru yang belum mengimplementasikan deep learning karena keterbatasan wawasan dan keterampilan. Oleh karena itu, momen saat ini perlu dimanfaatkan untuk belajar apa dan bagaimana implementasi deep learning dalam pembelajaran. Sudah cukup banyak tulisan, video, webinar, atau workshop yang membahas hal tersebut.
Peran guru dalam deep learning antara lain; sebagai salah satu sumber belajar, sebagai fasilitator, mentor, coach, dan asesor/evaluator. Hal yang diharapkan saat ini adalah guru merancang dan mengimplementasikan pembelajaran dengan cara yang mudah dipahami oleh murid. Guru diberikan keleluasaan untuk menentukan strategi pembelajaran, sumber belajar/bahan ajar, media ajar/alat peraga, dan instrumen penilaian baik pada fase prapembelaran, selama pembelajaran (proses), maupun pascapembelajaran. Point pentingnya adalah pembelajaran diharapkan menjadi sebuah proses yang memberikan pengalaman bermakna dan berkesan bagi murid. Dengan kata lain, keberhasilan deep learning kuncinya ada pada kreativitas guru.
Fakta empirik menunjukkan bahwa guru yang kreatif adalah guru yang memiliki jiwa pemelajar, mau keluar dari zona nyaman, berpikir out of the box, dan tangguh dalam mengatasi tantangan. Saya yakin banyak guru yang seperti itu. Tinggal bagaimana guru mempertahankan semangat dan dan motivasi mengajar, serta meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan didukung oleh lingkungan kerja yang kondusif.
Deep learning merupakan salah satu jenis pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Bisa saja dielaborasi dengan pendekatan lainnya. Guru jangan ragu dalam berinovasi. Hal yang paling penting adalah murid bisa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Wallahu a’lam.
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENGUATKAN DEEP LEARNING
Oleh IDRIS APANDI
(Praktisi Pendidikan)
Menggunakan jargon ”Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Kemendikdasmen berupaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satunya dengan mendorong guru-guru mengimplementasikan pembelajaran mendalam (deep learning). Gaung deep learning sudah memenuhi ruang diskusi di media sosial. Sebagai hal yang baru, tentunya ada yang pro, kontra, bahkan apatis dalam menyikapi hal tersebut.
Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong murid berpikir bukan hanya hapal materi, tapi mampu memahaminya, mampu berpikir kritis, dan mampu menyelesaikan masalah dalam suasana pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Oleh karena itu, melalui deep learning, kreativitas murid harus terus diasah, dan dikembangkan. Hal ini penting sebagai bekal kompetensi abad 21 dan menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Implementasi deep learning ditopang oleh 3 hal, yaitu; 1) mindful (berkesadaran), 2) meaningful (bermakna), dan 3) enjoyful (menyenangkan). Dalam konteks National Pedagogies for Deep Learning (Michael Fullan, Joanne Quinn, and Joanne McEachen, 2018), hasil yang diharapkan adalah tercapainya 6 kompetensi (6C) global, yaitu 1) Karakter, 2) Kewarganegaraan, 3) Kolaborasi, 4) Komunikasi, 5) Kreativitas, dan 6) Berpikir Kritis.
Sedangkan dalam konteks Indonesia (Kemendikdasmen), ada 8 kompetensi atau profil lulusan yang diharapkan melalui deep learning, yaitu 1) Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, 2) Kewargaan, 3) Penalaran Kritis, 4) Kreativitas, 5) Kolaborasi, 6) Mandiri, 7) Kesehatan, dan 8) Komunikasi. Berdasarkan hal tersebut, 6 kompetensi global tetap diadposi, ditambah 2 kompetensi khas yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME karena Indonesia adalah negara yang berfalsafah Pancasila dan kesehatan untuk menyiapkan generasi emas 2045.
Dalam sebuah kelas, idealnya, setiap murid aktif, bersemangat, dan antusias saat mengikuti proses pembelajaran. Idealanya, dalam proses pembelajaran, ruang kelas ramai, menjadi sarana untuk berdiskusi, berbagi pendapat, mengeksplorasi gagasan setiap murid, dan mengembangkan kreativitasnya, tetapi faktanya kelas kadang sepi. Guru saja yang sibuk menjelaskan materi di depan kelas. Murid hanya duduk dan diam mendengarkan penjelasan guru. Bahkan ada yang terantuk-antuk dan kurang memiliki motivasi belajar. Saat guru menawarkan ada murid yang mau bertanya, hanya ada 1 atau 2 murid yang bertanya, dan biasanya itu-itu saja orangnya. Kalau kondisinya demikian, bagaimana pembelajaran mau deep learning?
Mewujudkan deep learning bukanlah proses yang ujug-ujug. Ada hal yang harus diperhatikan oleh guru. Diantaranya adalah kemampuan awal, kesulitan belajar, minat, dan kondisi psikologis murid. Murid pun memiliki gaya belajar masing-masing. Oleh karena itu, cara dan strategi pembelajaran tidak bisa disamaratakan kepada semua murid. Inilah yang disebut sebagai pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang berpusat pada murid, mempertimbangkan keunikan, gaya belajar, kemampuan awal peserta didik. Oleh karena itu, dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru menerapkan beragam metode, sumber belajar, media, dan asesmen. Hal ini memang tidak mudah. Salah satu tantangannya, misalnya jumlah murid yang banyak dan beragamnya kebutuhan belajar murid.
Berdasarkan hal tersebut, maka asesmen awal (diagnostik) menjadi hal perlu dilakukan oleh guru. Tujuannya untuk mengetahui dan mengidentifikasi kondisi serta kebutuhan belajar murid. Dari hasil asesmen diagnostik tersebut, guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.
Asesmen diagnostik terdiri dari dari asesmen diagnostik kognitif dan asesmen diagnostik nonkognitif. Asesmen diagnostik kognitif tujuannya untuk mengetahui dan mengidentifikasi kemampuan awal dan kesulitan belajar murid. Instrumen yang digunakan misalnya pre tes, tanya jawab, atau kuis.
Asesmen nondiagnostik bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi kondisi psikologis dan latar belakang murid. Instrumen yang bisa digunakan misalnya wawancara dengan yang bersangkutan, wawacara dengan orang tua/wali murid, studi dokumentasi, atau observasi. Dalam melakukan asesmen diagnostik nonkognitif, guru kelas atau guru mata pelajaran dapat bekerjasama dengan guru BK atau wali kelas.
Guru menyusun desain pembelajaran berdasarkan hasil asesmen diagnostik yang kemudian disebut sebagai pembelajaran berdiferensiasi. Strategi pembelajaran berdiferensiasi terdiri 4 jenis, yaitu; 1) diferensiasi konten, 2) diferensiasi proses, 3) diferensiasi produk, dan 4) diferensiasi lingkungan belajar.
Diferensiasi konten yaitu guru menyajikan materi melalui beragam konten disesuaikan dengan gaya belajar murid (visual, audio, kinestetik) seperti audio, video, visual, atau audio visual. Murid dengan gaya belajar visual lebih tertarik dengan materi yang disajikan dalam bentuk gambar, grafis, atau video. Murid dengan gaya belajar audio lebih senang mendengarkan suara, rekaman, atau penjelasan dari guru secara langsung. Walau melihat media audio-video, suara video sangat membantu yang bersangkutan untuk lebih memahami materi. Sedangkan murid dengan gaya belajar kinestetik lebih senang belajar melalui gerakan, praktik, bermain peran, simulasi, dan sebagainya.
Pada diferensisasi proses, guru menerapkan beragam strategi dan metode pembelajaran saat menyampaikan materi pelajaran mengingat beragamnya gaya belajar dan minat murid dalam mempelajari. Di sinilah kreativitas guru diuji dalam memberikan layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid.
Pada diferensiasi produk, guru menyampaikan materi yang sama kepada murid, tetapi memberikan penugasan produk yang beragam. Misalnya, saat guru menyampaikan materi keaneragaman hayati, bentuk tugas atau produknya, misalnya, murid membuat makalah tentang flora dan fauna, membuat deskripsi atau video profil tumbuhan atau hewan tertentu, membuat grafis keanekaragaman hayati, membuat video tentang flora atau fauna tertentu, presentasi pengalamannya saat menanam atau memelihara hewan tertentu, dan sebagainya. Intinya, walau bentuknya beragam, tetapi produk yang dibuat oleh murid menggambarkan pemahamannya tentang materi pelajaran.
Pada diferensiasi lingkungan belajar, guru dapat melaksanakan pembelajaran di dalam ruang kelas, di luar kelas, mengajak peserta didik untuk mengobservasi lingkungan, atau berkunjung ke tempat tertentu. Selain itu, pembelajaran bisa dilakukan secara tatap muka (luring), tatap maya (daring), atau kombinasi tatap muka dan tatap maya (hybrid).
Mengingat beragamnya kemampuan murid, walau konten materi yang dipelajari murid sama, tetapi guru tidak bisa mengawali dari start yang sama. Tergantung hasil asesmen diagnostik. Materi yang mudah menurut murid tertentu belum tentu menurut murid yang lainnya. Oleh karena itu, waktu pencapaian deep learning setiap murid berbeda-beda. Pada tahap ini, selain kreativitas, guru juga memerlukan kesabaran dan ketelatenan dalam menyampaikan materi.
Asesmen formatif perlu dilaksanakan dengan optimal. Sifat asesmen formatif sebagai bagian dari proses pembelajaran (assessment as learning) dan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran (assessment for learning). Dengan demikian, penguatan kemampuan guru dalam pembelajaran berdiferensiasi akan sangat membantu dan mendukung implementasi deep learning.
DESAIN PEMBELAJARAN MENDALAM YANG MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DAN MENGUATKAN LITERASI DAN NUMERASI
Oleh: IDRIS APANDI
(Praktisi Pendidikan)
Saat ini pembahasan terkait pembelajaran mendalam (deep learning) sedang menjadi trending topic dan hot issue di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Hal ini tidak lepas dari wacana dan rencana Kemendikdasmen untuk mengimplementasikan deep learning dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran.
Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang mengarahkan murid bukan hanya menghapal materi, tetapi juga mampu memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, sampai membuat sebuah produk atau karya melalui pembelajaran kontekstual dengan menggunakan beragam model serta metode yang pembejaran yang relevan. Dengan kata lain, deep learning berorientasi kepada proses pembelajaran yang membangun kemampuan berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi melalui pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik dengan ditopang oleh tiga pilar, yaitu mindful learning (pembelajaran berkesadaran), meaningful (pembelajaran bermakna), dan enjoyful (pembelajaran menyenangkan). Pengalaman belajar yang diharapkan didapatkan oleh murid mulai dari memahami, mengaplikasikan, hingga merefleksikan materi yang telah dipelajarinya.
Untuk melaksanakan proses pembelajaran yang mencerminkan deep learning, hal yang pertama perlu dilakukan oleh guru adalah mendesain pembelajarannya. Oleh karena itu, saya mencoba membuat contoh desain pembelajaran deep learning yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggai menguatkan literasi dan numerasi.
- Contoh Materi:
Buah Jeruk dan Manfaatnya dalam Kehidupan.
- Capaian Pembelajaran:
Murid dapat mengenal dan memahami ciri-ciri, jenis, manfaat buah jeruk dalam kehidupan. Murid dapat mengolah buah jeruk menjadi makanan atau minuman. Murid dapat membuat produk dari tema buah jeruk dan memanfaatkan sampah dari kulit buah jeruk.
- Tujuan Pembelajaran:
1. Murid dapat mengenal ciri-ciri dan bagian-bagian buah jeruk.
2. Murid dapat mengetahui dan membedakan jenis-jenis/nama-nama buah jeruk.
3. Murid dapat menjelaskan kandungan gizi manfaat buah jeruk untuk tubuh.
4. Murid dapat menyebutkan/ memberikan contoh jenis-jenis makanan dan minuman olahan dari buah jeruk.
5. Murid dapat membuat makanan atau minuman olahan dari buah jeruk.
6. Murid dapat membuat produk, kerajinan/ prakarya dengan tema buah jeruk atau sampah kulit buat jeruk.
Murid mengetahui dan mempraktikkan cara menanam jeruk.
- Media:
Gambar/video buah jeruk, model buah jeruk, atau buah jeruk asli.
- Sumber belajar:
Buku, artikel, gambar, video terkait buah jeruk, dan lingkungan sekitar sekolah/ tempat tinggal murid.
- Metode:
Ceramah, tanya jawab, diskusi, observasi, praktik, pemodelan, bermain peran, dan proyek.
- Mindful learning (Berkesadaran):
1. Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada murid, misalnya:
a. Siapa yang tahu nama buah ini? (sambil memperlihatkan gambar atau video buah jeruk).
b. Siapa yang suka makan jeruk?
c. Mengapa kalian suka makan buah jeruk?
d. Vitamin apa yang terdapat pada buah jeruk?
e. Siapa yang tahu manfaat buat jeruk untuk kesehatan tubuh?
f. Siapa yang di rumahnya ditanami buah jeruk? Kalau ada yang ditanami, jenis buah jeruk apa yang ditanam, dll.
2. Guru menjelaskan materi perihal buah jeruk (ciri-ciri, jenis-jenis, bagian-bagian buah jeruk, cara menanam buah jeruk, kandungan vitamin pada buah jeruk, pengolahan buah jeruk, manfaat buah jeruk untuk tubuh, dll.) dengan divariasikan dengan tanya jawab, diskusi, observasi, dll.
3. Guru membimbing murid menyimpulkan atau merefleksikan materi pelajaran.
- Meaningful learning (bermakna)
1. Murid mengamati dan mengidentifikasi ciri-ciri buah jeruk yang dibawa oleh guru/murid atau memanfaatkan gambar/video. Bisa juga mengamati pohon jeruk yang sedang berbuah di lingkungan sekolah (jika ada).
2. Murid menonton video cara menanam dan memelihara pohon buah jeruk, serta cara memanen buah jeruk.
3. Murid mengidentifikasi dan mengamati bagian-bagian buah jeruk dan pemanfaatannya untuk beragam makanan, minuman, dan masakan.
4. Murid mengenal makanan dan minuman olahan dari buah jeruk.
Murid mengenal cara mendaur ulang/ mengolah sampah dari buah jeruk (misalnya pemanfaatan kulit jeruk untuk kompos, dll).
- Joyful learning (menyenangkan):
1. Murid menanam buah jeruk di halaman sekolah atau di rumah masing-masing.
2. Murid praktik membuat makanan atau minuman olahan dari buah jeruk (melatih kreativitas).
3. Murid menggambar, membuat lagu, bernyanyi, atau puisi terkait buah jeruk. (melatih kreativitas).
4. Guru membimbing murid untuk membuat prakarya dari sampah kulit jeruk (jeruk jenis tertentu), dll. (melatih kreativitas).
5. Murid bermain peran praktik jual-beli buah jeruk (melatih komunikasi dan kewirausahaan).
- Isu/ masalah kontekstual yang dijadikan pemantik tanya jawab/diskusi/curah pendapat:
Buah jeruk memiliki gizi yang baik untuk tubuh. Buah tersebut banyak disukai masyarakat dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Pengembangan kemampuan berpikir kritis (critical thinking)/ berpikir tingkat tinggi (HOTS/Higher Order Thinking Skills):
1. Murid ditanya apa saja ciri dan jenis-jenis buah jeruk.
2. Murid mencari informasi karakteristik tanah atau wilayah yang cocok untuk menanam buah jeruk.
3. Murid mencari informasi manfaat buah jeruk untuk kesehatan tubuh.
4. Murid diberi kasus buah jeruk yang busuk. Lalu diminta untuk mencari penyebabnya dan cara menghindari buah jeruk cepat busuk.
5. Murid diajak untuk mencari informasi cara membuat kerajinan/ prakarya dari sampah kulit jeruk (jenis jeruk tertentu), dll.
- Penguatan literasi dan numerasi:
Literasi:
1. Murid membaca informasi terkait buah jeruk dari beragam sumber belajar.
2. Murid mengamati bagian-bagain buah jeruk.
3. Murid mengobservasi lingkungan yang sesuai untuk ditanami buah jeruk, dll.
Numerasi:
1. Murid mengurutkan bagian-bagian jeruk dari bagian luar hingga bagian dalam.
2. Murid menghitung jumlah bagian (isi) pada satu buah jeruk.
3. Murid menakar/ menghitung jeruk yang akan digunakan untuk campuran makanan atau minuman.
- Jenis dan bentuk Asesmen:
Jenis Asesmen: diagnostik, formatif, sumatif.
Bentuk instrumen asesmen: pertanyaan, observasi, dan praktik/produk.
Diagnostik:
- Murid ditanya pengetahuan atau pemahaman awalnya terkait buah jeruk dan pemanfaatannya.
- Murid ditanya pengalamannya makan buah jeruk.
Formatif (dalam proses pembelajaran):
- Guru melakukan tanya jawab (lisan) dan diskusi dengan murid.
- Guru memantau dan mengamati pemahaman murid terkait manfaat buah jeruk dan pemanfaatannya.
- Guru memberikan umpan balik untuk menguatkan pemahaman atau meningkatkan kemampuan murid.
Sumatif:
- Guru membuat soal / pertanyaan sesuai dengan tujuan pembelajaran telah ditetapkan.
- Guru meminta murid untuk praktik atau membuat produk yang berkaitan dengan materi buah jeruk dan pemanfaatannya.
Jenis dan bentuk asesmen disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan relevansinya.
Pada proses pembelajaran, aktivitas mindful, meaningful, dan joyful tidak dilakukan terpisah, tetapi pada praktiknya dapat dilakukan secara bersama-sama, terintegrasi, dan terpadu disesuaikan dengan alur/ skenario pembelajaran yang digunakan oleh guru. Skenario pembelajaran di atas dapat diadaptasi atau dikembangkan pada model pembelajaran yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan.
Semoga contoh desain di atas dapat membantu guru yang memerlukannya. Contoh di atas bukan hal yang fix dan terbaik, tetapi masih bisa dikembangkan oleh para guru. Kemendikdasmen pun diharapkan segera membuat pedoman teknis pembelajaran dan penilaian deep learning. Selamat membuat desain deep learning yang sesuai dengan kebutuhan.